Free Template, Anime, And Manga

SEJARAH DAN ASAL MULA “SIRAU SULO” Kab .Bone

Bagikan ke Teman! :




Desa Pongka dibangun oleh sekelompok Migran dari Kabupaten Soppeng yang mengasingkan diri karena tidak senang dengan kesewenang-wenangaan penguasa Soppeng pada waktu itu. Protes sosial dikarenakan sifat penguasa Soppeng yang sangat bertentangan dengan hati nurani rakyat, yakni :   penindasan, pemerkosaan dan pemaksaan menjadi motivasi perpindahan ke Pongka.
Dalam perjalanan mencari pemukiman, mereka rujuk pada sebuah bunyi gendang ajaib yang dibunyikan setiap kali memasuki sebuah wilayah. Beberapa nama wilayah yang telah mereka namakan ialah kampung Lacenno(karena bunyi gendangnya nyaring) dan kampung Mario karena bunyi gendangnya Mario/gembira.
Pada saat tiba di suatu wilayah, bunyi gendang tersebut ganjil. Bunyinya mirip dengan suara “ngka” atau ada. Hal inilah yang menyebabkan penamaan desa Pongka. Atas kesepakatan rombongan dari Soppeng mereka lalu tinggal di desa Pongka atas seijin Raja Bone.
Yang bertindak sebagai pelopor pada kegiatan pengasingan ke desa Pongka  adalah Panglima Perang yang bernama “Petta Makkuli Lajengnge”.
Rumah masyarakat Pongka waktu itu mengahadap ke arah Barat dan rumah masyarakat Soppeng ke arah Timur sebagai bukti ketidakcocokan antara keduanya.


Mereka juga melakukan perang api “Sirawu’ Sulo” yang dipelopori oleh Petta Makkuli Lajengnge.
Kegiatan “Sirawu Sulo” ini biasanya diadakan 3 (tiga ) tahun sekali yang tidak boleh tidak dilaksanakan  karena kegiatan ini mempunyai pengaruh pada masyarakat “Desa Pongka” karena masyarakat desa pongka sendiri percaya bahwa acara Sirawu Sulo ini tidak dilaksanakan maka akan terjadi malapetaka bagi masyarakat desa Pongka tersebut.
Ø Makna pelaksanaan Ritual Sirawu Sulo
-         Sebagai ritual untuk menolak bala
-         Pesta panen kapas, jagung, kacang hijau, tembakau

Ø Makna ayam dan gendang dalam prosesi pelaksanaan ritual “sirawu Sulo” yakni :
-         Ayam sebagai symbol kegembiraan masyarakat desa Pongka untuk menyambut acara ritual “Sirawu Sulo”.
-          Gendang sebagai symbol penyemangat bagi masyarakat desa Pongka.

Ø Pelaksanaan Ritual “Sirawu Sulo”
Pelaksanaan Sirawu Sulo berlangsung di desa itu sendiri yang melibatkan beberapa orang atau sekelompok orang dari desa Pongka untuk melakukan “ritual Sirawu Sulo”.
Pelaksanaan ritual  Sirawu Sulo harus laki-laki, jumlah dan usianya tidak dibatasi. Pelaksanaan ritual Sirawu Sulo hanya dilaksakan 3 malam berturut-turut yang berlangsung selama 2 jam atau lebih tergantung dari Sulo tersebut (sampai apinya padam). Sebagian pelaksanaan ritual sirawu Sulo ada yang menggunakan baju dan ada yang tidak menggunakan baju. Bagi lai-laki yang menggunakan baju berisiko bajunya terbakar, tetapi luka bakar dapat sembuh dalam waktu tiga hari dengan menggunakan minyak yang telah diberi mantra/doa.
Sebelum ritual berlangsung, laki-laki yang akan mengikuti ritual “sirawu sulo” wajib diolesi minyak yang sudah diberi mantra atau doa agar kebal tehadap sulo (api).


RITUAL
1.    Alat-alat yasng digunakan pada ritual sulo : anyaman bamboo yang berisi 10 ekor ayam dengan jumlah pampule manu 14 yang melambangkan di desa Pongka terdapat 14 RT)
2.    Sulo yang diikat dari daun kelapa keringtidak terbatas, beras 2 liter, dan ayam 1 ekor masing – masing rumah untuk dimakan bersama.
3.    Sulonya tidak dibatasi jumlahnya.
4.    Gendang 2 buah, ada juga minyak yang dipakai untuk mengoles badan
5.    Sulo tersebut terdidi dari 25 lembar daun kelapa kering
6.    Ada kuburan yang berbentuk rumah
7.    Ada daun yang di masukkan ke dalam pohon Kajuara yang dianggap keramat dan dijadikan tempat persembahan ritual pada acara makkalu sebelum acara Sirawu Sulo
8.    Setiap mengangkat ayam harus diiringi  gendang, setelah Bulupongka. Kemudian menuju suatu tempat yang disebut Ulo-ulo (perbatasan Pongka). Ulo-ulo adalah suatu pemekaran diri desa Pongka, setelah itu ritual dilanjutkan di dusun tengah. Dusun tengah /waking pongka ada 14 RT, Alau galung, kampong tengngah, waking pongka, ajang kolong. Setelah berhenti, maka ritual dilanjutkan kesuatu tempat yang dinamakan ajang kalong.
9.    Bagi mereka yang mampu, boleh menyembelih kuda secara berkelompok minimal 7 orang. Dan itu dilakukan di rumah yang telah disepakati, mereka melakukannya karena merupakan bentuk kebahagiaannya tersendiri sebab dilakukan sekali dalam tiga tahun
10. Waktu menuju ke puncak gunung, dimana setelah sampai dipuncak Bulu Pongka, sanro dengan 2 orang laki-laki menari yang diringi gendang.



Informasi
1.    Sanro male (sanro wanua pongka, umur 51 tahun)
2.    Sanro   Matta (sanro persalinan)
3.    H. Ma’di (penasehat desa, umur 55 tahun)
4.    Abdi Wakaf (ketua RT 9 kampung Tengnga”
5.    Yadi (umur 22 tahun swasta)
6.    Pak Sahibe



0 komentar — Skip ke Kotak Komentar

Posting Komentar — or Kembali ke Postingan